Rabu, 29 Agustus 2012

PUISI TERAKHIR


Kita masih disini…
Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini.
Entah sampai kapan kita mampu bertahan.
Tapi kita harus tetap berjuang.
Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,
Maka nikmatilah saat ini.
Saat esok hari menjelang, maka biarkan hari ini menjadi kenangan.

Entah sudah berapa banyak puisi yang ditulis oleh Cathrine. Sambil menunggu Lexi sadar dari keadaan komanya. Kekasihnya yang sudah hampir dua minggu terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU rumah sakit. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa Lexi mengidap kanker otak dan sudah mencapai stadium akhir, tapi Cathrine tetap percaya bahwa mujizat Tuhan dapat terjadi kapan saja, bahkan disaat manusia merasa tidak mungkin, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuatnya menjadi mungkin.
“Aku percaya Tuhan akan memberi semua yang terbaik untuk kita. Cepat sembuh ya, supaya kita bisa mengulangi semua kejadian indah yang pernah kita lalui bersama. Aku rindu saat kita pergi kuliah dan ibadah bareng, dan juga saat-saat kita jalan bersama”. Ucap Cathrine sambil mengelus lembut kepala Lexi.
Untuk malam ini, Cathrine memang meminta izin untuk dapat menjaga Lexi hingga esok pagi. Entah mengapa malam ini, dia begitu ingin mengenang semua masa-masa yang mereka lewati bersama. Cathrine mengalihkan pandangannya ke dinding yang ada di hadapannya dan terlihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Kembali angannya melayang mengingat perkenalannya dengan lelaki yang terbaring lemah di hadapannya tersebut beberapa tahun yang lalu. Sudah hampir enam tahun mereka berkenalan, sejak pertama kali mereka duduk di bangku SMA. Sebagai dua orang siswa yang sama-sama berprestasi, tidak jarang mereka harus bersaing, baik di dalam kelas maupun ketika mereka berkompetisi di luar sekolah. Persaingan yang sportif membuat mereka menikmati persaingan itu dan malah membuat mereka semakin dekat. Mereka saling menikmati kedekatan itu, karena kedekatan itu membuat mereka saling memberikan dukungan satu sama lain. Rasa yang tidak bisa dicegah akhirnya menghampiri, rasa simpati dan kagum satu sama lain berubah menjadi rasa sayang dan saling membutuhkan. Mereka tidak berusaha menghindar karena mereka tidak bisa berbohong kalau mereka merasakan getaran yang sama. Hari-hari semakin indah, prestasi mereka sama-sama meningkat, begitupun juga rasa sayang itu, hingga saat ini mereka duduk di bangku kuliah. Namun semua itu mulai terusik beberapa bulan yang lalu, sejak Lexi mulai berubah, seakan ada yang dia sembunyikan dari kekasihnya, Cathrine.
Lexi mulai menghindari Cathrine. Biasanya setiap hari mereka selalu terlihat bersama di kampus, namun perlahan Lexi mulai jarang terlihat di kampus. Saat Cathrine mencoba menghubungi, selalu saja tak pernah ada respon dari si penerima telepon. Sampai akhirnya, Cathrine mengetahui bahwa Lexi sudah hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Saat pertama kali Cathrine menjenguknya, Lexi masih bisa tersenyum dan berkata, “semua akan baik-baik saja, jadi tak perlu khawatir”. Tapi, saat ini jangankan untuk berkata hal seperti itu lagi, bahkan untuk membuka matanya, Lexi seakan tak mampu.
Aku hanya meminta sedikit kebahagiaanmu, Tapi bahkan kesedihan pun tak kau bagi denganku Sambil menuliskan dua penggal kalimat tersebut, tak sadar air mengalir dari sudut mata Cathrine.

Terima kasih untuk perkenalan yang indah…
Terima kasih untuk jadi motivator terbaik dalam hidupku…
Terima kasih untuk semua bahagia dan tawa yang ada…
Terima kasih untuk semua cintamu…

Kembali mata Cathrine tertuju pada jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Tapi tak sedikitpun ia merasa kantuk, dan tak sedikitpun ada keinginannya untuk berbaring. Dia tetap memandang wajah tampan pria di hadapannya sambil memegang buku yang berisi puisi-puisi yang ia tulis selama dua minggu dia berada di rumah sakit ini.
“Kalau kamu sadar nanti, aku akan berikan buku yang berisi puisi ini untuk kamu, agar kamu tahu betapa aku sangat berharap untuk kesembuhanmu. Dan berjanjilah, kalau lain kali kamu sakit tolong jangan pernah menghindar dari aku. Kapanpun kamu mau, telinga ini selalu siap untuk mendengar setiap keluhanmu, dan pundak ini selalu ada untuk tempatmu bersandar saat rasa sakit itu menyerangmu.” Cathrine mulai mengajak Lexi berbicara.
“Aku rindu dengan mata indahmu, suara merdumu, senyum manismu, dan nasihat-nasihatmu.. aku akan tetap menunggu sampai keajaiban itu datang dan terjadi padamu.”
“Kamu tahu nggak Lex… aku sangat senang saat ini, karena aku dapat berdua dengan kamu, mengenang semua yang aku lewati dengan kamu, menulis puisi-puisi untuk kamu. Tapi aku mulai lelah dengan semua ini, tolong segera bangun dari tidurmu sebelum rasa jenuh ini benar-benar menguasai pikiranku. Sebelum harapan ini memudar…” ucap Cathrine.
Tak sadar sudah berapa lama dia menangis dan berapa banyak air mata yang tertumpah. Rasa lelah untuk penantian ini sudah hampir mencapai batasnya. Ingin menyerah, namun ia masih tetap percaya bahwa harapan itu masih ada.
Tiba-tiba Cathrine merasa ada gerakan lembut dan pelan yang menyentuh pipinya. Ia tersentak dan segera menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Rasa kaget, bahagia dan haru tercampur menjadi satu ketika melihat mata indah itu terbuka secara perlahan. Si pemilik mata indah menatap Cathrine dengan lembut.
“Lex..Lexi… kamu udah sadar. Terima kasih Tuhan buat mukjizat ini. Terima kasih untuk jawaban atas penantianku ini. Maaf untuk harapan yang mulai goyah”. Ucap Cathrine seraya bersyukur atas kejadian ini.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Lexi, mereka hanya saling bertatap mata. Cathrine dapat melihat dari mata Lexi begitu banyak kata yang ingin ia keluarkan, begitu banyak cerita yang ingin ia sampaikan. Tapi Cathrine sadar bahwa ia tak dapat memaksa keadaan untuk kembali seperti dulu. Mereka memerlukan proses untuk mengembalikan semua keadaan seperti sedia kala.
Tapi rasa bahagia itu hanya sesaat saja, tiba-tiba keadaan berubah menjadi tegang. Terlihat mesin yang menyambungkan kabel ke bagian tubuh Lexi memberikan sinyal bahwa orang yang menggunakannya dalam keadaan darurat. Cathrine tak tahu harus bagaimana, ia berlari mencari dokter di luar ruangan, berteriak meminta pertolongan. Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Lexi, namun apa yang terlihat adalah bahwa dokter dan suster yang ada di ruangan tersebut sudah mulai melepas semua alat bantu yang ada di seluruh bagian tubuh Lexi.
“Kami sudah berusaha, tapi kehendak Tuhan berkata lain. semoga semua keluarga tabah menerima ini”. Ucap dokter memberi keterangan pada Cathrine.
Dunia seakan berhenti bagi Cathrine. Harapannya kali ini benar-benar sudah musnah. Tak akan ada lagi harapan untuk kesembuhan Lexi. Di sudut ruangan terlihat dokter melihat ke arah jam tangannya dan Cathrine pun ikut melihat jam yang tergantung di dinding ruangan. Pukul dua belas tepat. Keluarga Lexi yang baru saja tiba juga segera berlari masuk ke dalam ruangan untuk melihat orang yang di kasihi untuk terakhir kalinya. Sementara Cathrine terduduk di lantai ruangan rumah sakit, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah mimpi, mimpi buruk yang sebentar lagi akan sirna. Tapi ini bukanlah mimpi, namun adalah benar-benar kenyataan, kenyataan yang menyakitkan yang harus ia hadapi.
“Lexiii… kenapa harus membuka mata itu, kalau kamu ingin menutupnya selamanya? Kenapa tak kamu biarkan saja mata itu tertutup malam ini, namun nafas itu tetap ada selamanya?” Cathrine merintih dalam tangisannya.
“Aku ingin menulis puisi yang terakhir untuk kamu, setelah ini aku tak akan pernah menulis puisi-puisi lainnya selamanya.” Ucap Cathrine sambil membuka buku yang berisi puisi-puisi yang ditulisnya, seraya menahan air yang ada di sudut matanya sehingga tak jadi tertumpah membasahi pipinya.

Penantianku terjawab…
Harapanku tercapai…
Aku menyayangimu, namun tak mampu memilikimu.
Aku mengharapkanmu, namun Tuhan berkehendak lain padamu.
Aku kecewa… Aku marah…
Namun apa guna jika itu mampu
membuatmu bahagia.
Aku tak rela…
Namun keadaan memaksa.
Setiap awal akan berakhir
Setiap pertemuan akan berujung perpisahan
Tapi tetaplah percaya, setiap kejadian akan memberi hikmah.
Selamat Jalan kekasih
Bahagiaku untukmu selamanya…

Itulah puisi terakhir yang di tulis Cathrine, setelah menyelesaikan puisi tersebut, Cathrine meninggalkan buku itu di bangku rumah sakit dan segera bergegas meninggalkan rumah sakit.
“Terima kasih untuk cinta itu, percayalah… saat engkau bahagia di alam sana, begitupun aku akan melanjutkan kehidupanku di alam ini dengan bahagia.” Ucap Cathrine tersenyum menabahkan dirinya dan kemudian berjalan keluar rumah sakit.

KUTEMUKAN DIRIMU DALAM HUJAN

Senja ini begitu dingin, aroma tanah basah masih menyeruak, tetesan airMu telah menyegarkan bumi ini. Aku mendongak menatap langitMu , sungguh membuatku nyaman sekaligus merasa kecil di semestaMu yang luas ini. Dan kupejamkan mataku,,,,,,,,,,,,,,,
Ada sebuah rumah sederhana, ada aku, kau, dan mereka. Senda gurau terus mengisi rumah ini, suara tangis baby menambah keakraban yang telah terjalin…. Tapi siapa kau, siapa mereka dan aku ada dimana??? Oh,,, aku tak kenal tempat ini, aku begitu asing, tapi mengapa aku merasa nyaman dan bahagia di tempat ini terutama sangat disampingmu,,, Sebenarnya siapa kamu,,,,
Kurasakan tetesan air menerpa wajahku, akupun terbangun, senja kini dihiasi dengan hujan lagi,,, Beratus-ratus jam aku berusaha melupakannya, tapi tetap saja ingatan itu selalu ada, tapi siapa yang dalam ingatan itu, akupun tak tahu.
Tubuhku telah basah kuyup disiram airMu, ku masih berdiri tegak di tepian pantai ini, memandang cakrawalaMu yang tak bisa kugapai dan tak bias kusentuh. Terbesit pertanyaan dibenakku, mengapa harus ada batas seperti cakrawala yang tak bisa kugapai dan tak bisa ku rubah,,,, Hujan ini,,, ya hujan ini telah membekukan tubuh dan pikiranku,,, pikiran yang tertuju pada satu titik, pikiran yang tertuju padamu, entah kamu yang tak kukenal itu siapa, dan kenapa engkau seperti menghantui pikiranku,,,
Hujan yang semakin deras membuat kepalaku semakin sakit, tapi entah kenapa ada juga perasaan nyeri di dada ini, rasa perih dan sesak,,, oh ada apa ini,,, Kristal bening mengalir di pipi, rasa sesak ini semakin menjadi, aku sudah tidak tahan,,,,,,,,
Sebuah kamar kecil terdapat jendela langsung menghadap halaman rumah, ada kamu yang dengan tatapanmu memandangku dan bercanda bersama, bergandengan tangan keluar dengan penuh tawa,,, ———— Deru motor ditengah hujan, menikmati setiap tetesan air hujan bersamamu merupakan suatu kebahagian tersendiri untukku. Melakukan segala hal bersamamu merupakan anugerah terindah dalam hidupku.
Dan kini wajahmu semakin jelas dalam ingatanku, senyum serta tatapanmu saat memandangku semakin jelas terasa. Akhirnya aku menemukanmu, akhirnya aku mengenalmu,,, Aku pernah sangat ingin melupakanmu hingga hal-hal tentangmu seperti melayang dalam ingatanku, tak jelas.

Kini kutersadar, aku tak ingin melupakanmu,,, Hanya sebait puisi sederhana yang tercipta untukmu

Di hamparan ladang kering kerinduan
Angin mendesaukan bisik kepedihan
Meluruhkan dedaun kusam kenangan
Gemerisik daun dan nyanyian embun
Takkah pagi selalu membuatmu tertegun
Rindu kian tertimbun

Selama masih ada hujan, aku masih bisa mengenalmu dan merasakan kehadiranmu – (RIP)

KARENAMU, PERTAMA KALI


Menangis,
Dalam ringis,
Saat gerimis…
***
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku mengagumi seseorang. Selama ini, yang kukagumi hanyalah para filosofi, ilmuwan, atau pun orang-orang luar biasa. Kemudian, kau datang. Mengganjal pikiran, mencuri perhatian. Kekagumanku padamu di luar dari ranah yang bisa kujelaskan. Rasanya agak, mmm… menggelitik. Membuatku begitu penasaran, begitu asam manis.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku bersikap salah tingkah. Setiap kali menghampirimu, atau bahkan hanya memandangimu, ada gemerisik perasaan gugup yang menghampiriku. Napasku seperti tercekat, di mana jantungku ingin meloncat keluar raga. Apa itu terdengar hiperbolis? Baiklah, mungkin memang iya. Tapi aku benar-benar merasakannya. Degup tak bisa kuhindari. Hanya saja, akan terlihat konyol jika aku dikalahkan gaya gravitasi bumi di hadapanmu. Jadi, kunikmati saja anomali tubuhku saat dekatmu. Membiarkannya melantunkan nadanya sendiri.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku terkesima oleh senyum yang tidak diperuntukkan bagiku. Semua orang tahu, kau bukan tipikal yang akan bisa akrab dengan orang yang baru saja kau kenal. Keramahanmu padaku hanyalah suatu sikap formalitas. Hanya menyapa dengan lengkung senyum tertarik tiga detik. Akh, juga ada dua lesung pipi di sudutnya, dalam sekali. Biarpun begitu, aku tahu kau cuma berbasa-basi dengan sikapmu yang seperti itu. Selebihnya, tertinggal sikap acuhmu. Bukan karena kau membenciku, tapi karena kau memang tidak terbiasa berlaku di luar “sikap formalitasmu”. Tawamu, hanya untuk teman-temanmu saja.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku tak bisa mengenali diriku dengan baik. Kupikir, cukup dengan berusaha menjadi lebih baik, aku telah memenuhi kebutuhanku. Dan lagi-lagi, aku salah. Biarpun tak pernah bercengkrama secara pribadi denganmu, aku mempelajari banyak hal baru. Bukan mengenai apa yang menjadi tujuan, melainkan tentang bagaimana kita berproses mencapai tujuan itu. Layaknya sebuah keramik yang harus menahan serbuan panas untuk menjadi lebih kuat. Kau, dengan usaha kerasmu itu –yang terkadang membuatmu harus jatuh sakit– mengingatkanku untuk terus bersemangat menghadapi tantangan.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada hal yang tak harus disampaikan. Mengagumimu dengan diam-diam, berhasil membuatku tersenyum geli. Kau pasti tak tahu. Aku selalu memperhatikanmu. Gayamu saat bersandar di dinding; dengan tangan yang dilipat di depan dada dan kaki yang saling menyilang. Aku tergila-gila pada detective style-mu itu. Oh ya, masih ada lagi. Sikap sombongmu karena menjaga jarak dariku, keseriusanmu pada setiap hal, kehebatanmu menendang bola, pembawaanmu yang sok misterius, kegemaranmu pada kimia. Semuanya tentang dirimu. Selalu mengingatkanku pada karakter manga kesukaanku, Shinichi Kudo. Kau benar-benar replikanya yang sempurna.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku menghela napas panjang. Saat kau berlalu begitu saja di hadapanku. Begitu saja. Seakan kehadiranku tak cukup untuk membuktikan keberadaanku padamu. Itu menyebalkan, sangat. Lebih menyebalkan lagi, aku tak bisa protes akan segala kelakuanmu itu. Yang bisa kulakukan hanya memandangi punggungmu saja. Berpikir betapa jauhnya jarak antara kita.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku begitu jenuh dengan persaingan. Aku lelah. Berusaha mengalahkanmu menjadi juara kelas. Kau rivalku, bukan? Tapi mengalah begitu saja, tanpa alasan jelas, akan terlihat aneh. Dan menurutku, masalah perasaan aneh padamu telah termasuk alasan yang tidak jelas. Memusingkan juga ternyata. Memiliki perasaan aneh yang malah membuatku semakin aneh. Benar-benar aneh pokoknya. Ya, apa boleh buat. Kelihatannya membiarkan keanehan ini mengalir satu-satunya cara untuk mengurangi kadar keanehan itu sendiri.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku menikmati senandung yang ditorehkan alam. Mengintegralkannya ke bentuk yang lebih parsial. Memahami setiap pecahan romantismenya. Akan terdengar begitu puitis jika kudeskripsikan secara panjang kali lebar kali tinggi. Begitu bervolumenya hingga aku tak bisa menentukan bagian mana yang akan kubahas lebih dahulu. Jadi izinkan saja kusimpan keindahan senandung itu untuk diriku sendiri. Sebait sonata darimu, yang tak pernah tersenandungkan olehmu.
Itu karenamu. Untuk pertama kalinya, aku…
Untuk pertama kalinya, aku…
Bisakah kudefinisikan perasaan ini dengan sebuah kata yang lebih mudah? Tunggu dulu! Bukankah definisi hanya untuk membatasi ruang lingkup dari apa yang didefinisikannya? Padahal perasaan yang seperti ini seharusnya tidak memiliki batas, kan?
Akh, malah terlihat merumitkan!
Lagipula, belum saatnya aku mengakui perasaan ini.
***
Itu karenamu.
Untuk pertama kalinya.
Aku, sepertinya begitu menyukaimu…
***
“Gerimis, ya?”
Ada lengkung-lengkung perak yang menggantung di batas langit. Berombak dalam rintihan. Namun, muatan hidrogen di sana belum mau meretas. Menahan tangis kumulus yang seharusnya menetes.
Kuhela napas panjang. Membiarkan paru-paruku dipenuhi kelembaban udara. Dingin, tapi aku sudah mati rasa. Sakit.
Mungkin memang seharusnya aku berdiri dalam lingkaran amanku saja. Di mana setiap kesal, jengkel, marah, sakit, dan kekaguman hanya kubelenggu dalam ekspresi kata. Menciptakan duniaku di tempat berbeda dari tempatku berpijak sekarang. Seharusnya kusimpan saja perasaan ini. Atau, tak seharusnya kubiarkan rasa itu menggerogotiku perlahan.
Punggungmu yang berlalu begitu saja. Tawamu yang kupandangi dari balik jendela kelas. Detective style-mu yang menyeruakkan aura misterius.
Aku terjebak di sana.
Aku benar-benar terjebak. Lebih parahnya lagi, aku tersesat. Seperti bunga matahari yang mengira bisa menggapai surya karena setia mengaguminya.
Dan, aku kembali pada identitasku. Ke dunia akrasa, ke tempat pelarianku. Berdiri dalam kesendirian, ditemani kesemuan. Kedengarannya memang sangat sadis. Tapi…
Tapi lebih menyakitkan mengetahui kau masih menyimpan perasaan lain –yang lebih dalam, yang lebih tulus– pada gadis masa lalumu.
Bukan padaku.
***
Itu karenamu.
Untuk pertama kalinya.
Aku ingin menyimpan seruat perasaan ini.
Bukan lagi tertuju padamu.
Sayounara, daisuki na hito*…
***
Menangis,
Dalam ringis,
Saat gerimis…
Hanya untukmu, kubiarkan hatiku terluka,
Hanya untukmu, kubiarkan diriku menduka,
Hanya untukmu, kubiarkan semua kehilangan peka…
Tapi, maaf,
Aku tak bisa sakit lebih dari ini…
~~~karenamu, pertama kali~~~
Footnote:
*Selamat tinggal, orang yang sangat kusukai

Selasa, 07 Agustus 2012

SISWA PENCONTEK BERMENTAL KORUPTOR


Shin Mi-shun, seorang praktisi perfilman Korea yang terlibat dalam program pendidikan anti  korupsi di sekolah-sekolah Korea Selatan menemukan data mengejutkan. Sebagian besar korupsi bukan dilakukan para politisi atau pelaku bisnis, tapi justru melibatkan siswa dan guru.


Menurut Mi-shun, sekolah saat ini banyak mengalami dekadensi, karena membiarkan munculnya bentuk-bentuk tingkah laku koruptif. Itu terjadi karena sekolah sering menganggap abnormalitas, seperti perilaku mencontek, sebagai hal umum, sepele dan tidak serius. Walau tidak membenarkan perilaku ini, tapi banyak sekolah sering tidak tegas member sanksi bagi tindakan cikal sifat koruptif ini.
Mi-shun merujuk riset Franklyn-Stokes dan Newstead (1995) serta Generaux dan Mc. Leod (1995) yang menyatakan, banyak aksi mencontek yang didahului dengan perencanaan matang dan dilakukan secara terorganisasi. Para criminal kejahatan kerah putih (koruptor) juga dipraktekkannya.
Sayangnya, tak banyak orng menyadari bahwa kebiasaan mencontek dan ragam pelanggaran lain di sekolah merupakan kunci terjadinya kelainan psikologis yang serius, yaitu gangguan kepribadian anti social. Menurut Kemberg (1998), gangguan kepribadian antisocial merupakan bentuk terparah karakter narsistis psikologis.
Orang yang suka mencontek, adalah individu pengidap kepribadian antisocial yang termasuk tipe pasif parasitic. Tanda-tanda kepribadian menyimpang ini sudah timbul sejak usia belia. Gangguan perilakunya tampak dalam wujud mencontek, berbohong dan mengeksploitasi orang lain.
Apabila hal-hal ini tumbuh dan berkembang sejak usia dini dalam lingkungan social, benih kepribadian antisocial akan diserap dan ditoleransi. Hal yang tidak wajar juga akan dianggap wajar.
Dinamika psikologis seperti ini memberikan penjelasan atas penelitian Nonis dan Swift (1998), Harding, Passow dan Finelli (2003), serta Lawson (2004) yang menyebutkan, pelajar yang melakukan ketidak jujuran akademik cenderung akan melakukan ketidakjujuran di lingkungan kerja.



Bagamana dengan kalian sebagai mahasiswa akademi keperawatan??? Dari hasil penelitian ditemukan sebanyak 87% mahasiswa Aker Pamekasan pernah mencontek. Mencontek adalah perilaku yang seakan-akan biasa dilakukan dengan melalui perencanaan yang matang seperti menggunting hand out, menulis dalam kertas kecil yang dilipat-lipat kecil dan dimasukkan ke saku, menulis dipaha, di baju, rok dan pakaian lain. Yang lainnya mengeksploitasi orang lain dengan mencontek pada teman-temannya yang lebih pintar.
Nah kan……………..???

ADA YANG PERGI, ADA YANG DATANG


Kho yang terbuang


Suatu masa saat duduk-duduk di emperan asrama seorang kawan bertanya, "Khotim diterima Akper, Khotim kerja di Akper. Bagaimana pertimbangannya kok Khotim bisa diterima di Akper?" dengan nada bertanya seorang kawan mengeluh. "Saya tidak tahu, yang punya kewenangan adalah pimpinan", sahutku.
sampai suatu masa lagi tiba-tiba Kho menghilang, tak terdengar kabarnya. Andai seorang kawan tidak bercerita kalau Kho telah 'pergi', mungkin ku akan cuek dan tak akan pernah tahu kemana ia gerangan.
dan disuatu masa yang gerimis, ku coba hubungi dia.
"Halo, Assalamu'alaikum. Bremma kabharra Kho?"
"Tidak baik, Pak" sahutmu dari seberang.
"Tidak baik gimana Kho?"
"Ya, tidak baik Pak. Masih sakit hati saya!". kamu menimpali.
"Sakit hati kenapa?". tanyaku.
"Mellang, Pak?"
"Gimana dulu, ceritanya?"
"Gak ada cerita, Pak. Sudah ditutup!
"Ya, kalau sudah ditutup, jangan sakit hati lagi, Kho. Tidak boleh ada sakit hati. Ikhlaskan saja".
"Sekarang saya pergi besoknya sudah ada yang datang" tukasmu menimpali.
"Ya. Mekanismenya kan hanya pimpinan yang tahu, kawan?". jawabku menimpali.
Ku lanjutkan lagi:
"Kamu tahu Kho, kamu dengan Meithun sama kok. sama-sama "bodohnya" (sorry). tapi hanya satu (1) yang membedakan. itupun kata-kata belakangnya yang beda. tapi itu yang membuatnya sangat berbeda. Kalau Meithun Multi Talent. sedangkan kamu Multi Pengko".
"Kalau ada salah mohon dimaafkan, ya"
"Iya pak!"
"Kho, Jangan kembali ke Akper. Kamu gak cocok di Akper. kamu cocok di tempat tersembunyi, tempat sunyi. kesunyian adalah jodohmu. Bukankah hantu asrama selalu berkumpul di kamarmu saat kamu 'bersembunyi' bersamanya?
"Hahahahahah, Bapak ada-ada saja!"
"Semoga kita bertemu lagi dalam kebahagiaan yang lain, di suatu masa yang berbeda pula".
"Selamat jalan, Kho".
"Selamat jalan, kawanku!"

dikirim pertama di www.elwahid.tk pada 13 Januari 2012

Senin, 06 Agustus 2012

MENGIKHLASKAN DIRI UNTUK MENJADI JIWA YANG DAMAI



Dalam keindahan dari kedamaian hari ini, marilah kita membebaskan hati kita dari beban kemarahannya, dari jeratan kekhawatirannya, dan melapangkannya dengan memaafkan mereka yang telah sengaja atau tidak-telah melukai hati ini.

Memaafkannya, mungkin tidak mengubah dia yang melukai Anda itu menjadi orang yang lebih baik, tapi pasti menjadikan Anda jiwa yang lebih damai, yang lebih mudah melihat jalan keluar dari masalah Anda, dan menjadi lebih pantas menerima pertolongan dan penyelamatan dari Tuhan.
Hari ini, marilah kita mengikhlaskan diri kita untuk menjadi jiwa yang damai, yang teduh wajahnya, yang lembut suaranya, yang hangat sambutannya, yang sabar mendengarkan keluhan orang lain, yang tidak membebani orang lain dengan keluhan kita, yang mendahulukan kebaikan hati sesama daripada kepentingan kita untuk menjadi lebih berharta, dan tersenyum bahagia karena telah memilih memenangkan diri di atas kecenderungan tidak baiknya.

Semoga dengan keikhlasan kita hari ini, Tuhan membuka pintu pengertian kita yang menjadikan kita penyelesai yang anggun dari masalah-masalah kita dan sesama, dan menjadi pribadi yang anggun dalam kesyukuran saat menerima rezeki yang lebih besar - hari ini dan pada hari-hari yang indah sepanjang tahun ini.

Semoga Tuhan merahmati kesungguhan hati kita hari ini dengan kesehatan, kedamaian, kegembiraan, dan kesyukuran yang indah karena terbukanya pintu rezeki yang lebih membebaskan kita dan keluarga terkasih.

Aamiin

HAPUSLAH AIR MATAMU, ALLAH BERSAMAMU


Suram sesuram gerimis dihati
mengapa kau menangis wahai diri
merasakan dunia tak lagi  berarti
adakah kau meragukan kasih Ilahi
mengapa tidak yakin adanya Allah bersamamu

kau mencari-cari
meraba-raba dalam gelap hatimu
bingung nanar dalam ramai
tak mengerti mengapa ini yang harus kau hadapi

kau menanti, bilakah akan kau peroleh apa yang kau harapkan
merasakan bahwa Allah tak lagi indah memandangmu
Atau kamu merasakan Bahwa Allah tak sudi memandangmu

jangan begitu wahai diri dengarkan apa kata Tuhanmu
“Hai anak Adam! sesungguhnya engkau,

selama engkau berdoa dan berharap kepadaKu,
niscaya Aku ampuni bagi engkau di
atas dosa-dosa yang ada pada engkau,
dan Aku tidak peduli wahai anak adam!
meskipun dosa-dosamu mencapai awan dilangit,
kemudian kamu mohon ampun kepadaKu
maka Aku akan mengampunimu

wahai anak Adam seandainya kamu datang kepadaKu
dengan membawa dosa hampir memenuhi bumi
kemudian kamu datang kepadaku
dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun,
niscaya Aku akan datang kepadamu
dengan memberi ampunan sepenuh bumi pula” (HR At-Tirmidzi)

Wahai diri,  engkau jiwa yang baik jiwa yang rindu
hanya saja engkau keliru
mengapa masih terus menzalimi dirirmu
sedangkan dirimu tak berhak disakiti
jasad dan rohmu anugerah terindah dari illahi
maka mengapa engkau tega melukai
engkau jiwa besar yang dikasihi Allah
engkau jiwa hebat berpotensi dahsyat
engkau jiwa kebal yang mampu melalui berbagai ujian
engkau sebenarnya bercita-cita tinggi lalu mengapa engkau memilih untuk terus disakiti
jangan begitu wahai diri
sungguh engkau senantiasa mempunyai satu lagi pilihan
yaitu kembali kepada luasnya kehidupan Bertuhan
kembali berteduh dibawah kasih ilahi
kembali kepada dia
tak usah takut wahai diri
bukankah mereka bersamamu
mendukungmu ketika kau bertatih dijalan ini
yang pasti engkau tidak sendiri karena masih ada yang menyayangimu
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfaal (8)ayat 63)
oleh itu yakinlah dan teguhkan derapan langkahmu di jalan ini
yakin allah bersamamu disetiap langkahmu
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali-Imran(3) ayat 139)

MERINDUKANMU


Aku tahu hatimu merindukan kelembutan,
dan telah lama kau rasa dunia ini
berlaku kejam kepadamu.

Mengapakah engkau didekatkan dengan orang-orang
yang kasar memperlakukan hatimu,
dan menelantarkanmu seperti barang yang tak penting?

Adikku, sini yuk?! ... kita lapor kepada Tuhan,
agar kita dibuat mengerti,
sehingga tak ada orang kejam yang bisa menyakiti kita,
dan agar dunia didahulukan keindahannya bagi kita.

Aamiin

ATAS NAMA LOGIKA


SENAT, CINTA LOKASI DAN KEHAMILAN

Setiap kali ku mendengar nama senat, dadaku melambung. Masih ingat waktu masih jadi mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung walau mungkin hanya sampai di wakil senat Diploma 3 Keperawatan. Menjadi anggota senat adalah dambaan semua mahasiswa. Siapa yang tak ingin. Status keren, dikenal semua dosen, terkenal di semua kalangan civitas akademika. Yang tak kalah hebat pamor naik nich dimata mahasiswa-mahasiswa baru (yang cewek-cewek), sehingga bisa nembak salah satu cewek yang memang ku incar. Hem, itulah poin plus jadi anggota senat.

Menjadi senat itu identik dengan pinter (walau mungkin kebanyakan minterin kali ya......). Setiap punya agenda kegiatan yang mengatas namakan kegiatan kampus, dari sekedar bukber di kampus, tahlilan bareng, traweh, tadarusan sampai beli makan buat bukber, maka dibentuklah panitia yang dipilih berdasarkan incaran masing-masing anggota. Lalu dibentuk panitia kecil dimana dirinya bisa selalu satu kelompok dengan cewek incarannya.  Seringnya pertemuan kecil itulah sehingga menumbuhkan minat pada cewek yang memang sengaja diincar tuh. Dan tak terasa tumbuhlah cinta yang berawal dari pertemuan kecil, ajakan kecil, bukber, tahlilan bareng dll dan lokasi selalu sama. Orang bilang hanya cinta lokasi kok, paling-paling setelah keluar dari lokasi itu sudah g’ cinta, hehehe. Uh, cinta kok gitu ya? Tapi, gak juga kok. Kegiatan kampus yang padat, rapat sampai malam bahkan sampai tengah malam, mencari donatur untuk mensukseskan acara dilakukannya bersama walau sampai lupa habitat yang asli. “aduh capek nich” dan bukan hal aneh kalau “temannya” tiba-tiba mijetin punggungnya, lalu menjalar ke pinggang dan dalam kebersamaan itu lalu meluncur kata “kamu cantik dek, sebenarnya sejak ospek dulu q perhatian ma kamu, dan sengaja ku mengajak kamu untuk aktif di kegiatan kampus dan kamu benar-benar telah membuatku terpana, ku menyayangimu dek, bagaimana kalau kita jadian?” mantap bukan.

Sampai suatu hari, di kegiatan senat si cewek berkicau di akun Fbnya “OTW ke Kangean mengajukan proposal kegiatan dikampusku bersama Abiku, asik,asyik,asyik”. Dan tak lama dari kicauan itu sebuah keputusan maha penting menghadang. “Kalian telah melanggar pernyataan ketika kalian menjadi maba disini”. “Oh tidak tuan, kami melakukanya secara halal, anak yang ada dalam kandungannya halal, kami sudah menikah secara agama, jadi atas nama logika kami tidak salah, kami tidak melanggar hukum Tuhan”. Sampai pada puncak penyesalan di akun Fbnya ia berceloteh “Atas nama logika, saat berduaan setan membisikku, nafsu menggagahiku, birahi mencumbuku dan ku tak mampu mengendalikan diri, terbuai dalam kenikmatan terlarang. tapi mungkin pengalaman ini akan mendewasakanku, tak boleh disesali, karena segalanya telah terlambat. Selamat datang babyku.”

Itu hanya sedikit cerita dari tumpukan cerita. Seperti fenomena gunung es, yang tampak dipermukaan sangatlah sedikit. Cerita cinta lokasi berawal dari pertemuan karena aktif di kegiatan yang sama, waktu yang mendukung, suasana yang mendukung. Akhirnya apa yang diinginkan jadilah. Kalian tidak percaya?? Lihat saja kisah-kisah asmara mereka di kamar pojok parkiran kampus.

ATAS NAMA LOGIKA

DOSEN FAVORIT


Ujian sidang karya tulis ilmiah Akademi Keperawatan Pamekasan segera dimulai. Mahasiswa atas nama Citra Halim Perdana Kusuma, akan mempertahankan hasil penelitiannya di depan semua penguji dengan judul penelitian “Hubungan Ketersediaan Informasi Pendidikan Seksual dengan Pengalaman/Perilaku Hubungan Seksual di SMU Abal-abal”

Penguji pertama memuji : “hm, judul yang bagus, luar biasa”

Penguji kedua menguji (ekspresi wajah marah): “lihat di kata pengantar. Saya sangat tersinggung dengan kata-kata yang terdapat di kata pengantarmu. Apa maksud kamu terima kasih kepada Bapak Moh Nur, selaku dosen favoritku, yang telah menyelamatkanku dan memperjuangkanku sehingga aku bisa wisuda tepat waktu. Bagaimana kalau penguji utama dan saya tidak meluluskanmu sekarang”. Ini dia jawabannya “Oh iya, saya minta maaf. Saya beberapa waktu yang lalu terlibat dalam masalah. Saya dan isteri saya (awalnya bilang pacar saya) hampir dikeluarkan (cuti) dari Akper, karena isteri hamil, tapi saya sudah nikah secara siri dan agama. Lalu saya minta pertolongan ke pak Nur, dan berkat pertolongan beliau saya bisa tetap, sedangkan ani isteri saya cuti”.

Penguji kedua menimpali:”Ok, saya tidak mempersoalkan tentang dosen favorit versimu, itu hak kamu, tapi saya menanyakan kata-kata sehingga aku bisa lulus dan wisuda tepat waktu. Bagaimana kalau saya dan penguji utama tidak meluluskan kamu pada ujian KTI ini? Apakah kamu bisa lulus dan diwisuda tepat waktu?

Peneliti terdiam cengar-cengir,

Penguji pertama kaget dengan cerita peneliti. Karena memang tidak pernah mendengar atau terlanjur tidak peduli dengan isu-isu di kampus? Lantas penguji pertama bersuara; “hehehe....judul yang bagus, tapi akan lebih bagus apabila judulnya diganti dengan “Hubungan Ketersediaan Informasi Pendidikan Seksual dengan Pengalaman/Perilaku Hubungan Seksual pada Mahasiswa Akper” dengan sampel penelitian ya kamu sendiri. Kamu dan isterimu terlibat pada penelitian ini. Tidak usah banyak-banyak, cukup kamu berdua sudah bisa menghasilkan kongklusi yang valid. Kesimpulannya Ketersediaan informasi seksual, (ditingkat I pada MK. KDM ada kuliah tentang Seksualitas, yang mengajar Bu Isza, di Tingkat II ada kuliah maternitas dan prakteknya), ternyata tidak menghindarkan seseorang (sampel) untuk melakukan hubungan seksual pra nikah. Dan kalau sudah ada hasil dalam rahim bunda atas nama logika mengatakan kami sudah menikah secara sirri dan agama. Tak perlu pembuktian apapun tentang itu, bukan???

ATAS NAMA LOGIKA


M.KEP TANPA NAMA

Menyesal aku. Aku menyesal. Ngapain kuliah sampai di Strata dua. Ngapain juga kuliah sampai di Magister? Magister Keperawatan lagi. Tapi yang membuatku senang namaku bertambah panjang. A. Wahid, S.Kep,Ns.,M.Kep,Tanpa Nama. Gelarku lebih panjang daripada nama dagingku sendiri. Yang membuatku “bahagia” lagi di papan daftar nama karyawan di tempatku bekerja namaku yang panjang tapi pendek itu tertulis sebagai satu-satunya yang tertera sebagai Dosen. Ya hanya satu-satunya. Hebat ya...?
Kok bisa? Ya bisa dong. Namanya saja Wahid. Wahid adalah satu. Jadi serba satu itu wahid. Gak usah kaget dong. Trus dosen-dosen yang laen bagaimana? Dosen yang mana? Itu seperti pak jeri, pak tofik, pak imam, bu fatim, pak nur, bu hilmah. Kan mereka juga dosen? Beda. mereka bukan dosen. Seperti pak Nur, dia itu Kabiro kemahasiswaan yang nyambi sebagai dosen, Bu Hilmah Kalab yang juga nyambi sebagai dosen, bu Fatim Kadiv (Kepala Divisi) Jiwa yang juga nyambi sebagai dosen. Terus enakan yang mana pak antara pak wahid dengan pak Nur. Pak wahid hanya sebagai dosen sedangkan pak Nur sebagai kabiro Kemahasiswaan  yang nyambi ngajar?

Sampai disini tercekat kerongkongan dan tenggorokanku. Sebenarnya enakan yang nyambi-nyambi itu. Bayangin setiap bulan gaji saya terima aslinya gak ada tambahannya. Tapi yang nyambi-nyambi itu ada tambahannya, tambahannya dari 100-200 ribu. Enakan yang nyambi-nyambi itu kan, walau sebenarnya pekerjaan utamanya tidak jelas dibandingin dengan pekerjaan nyambinya. Malah jelasan pekerjaan nyambinya.

Walau atas nama logika mengatakan loh pekerjaan kabiro jelas dan berat karena berhadapan dengan mahasiswa, pekerjaan kalab apalagi. Tapi sebenarnya bukan bukan hal-hal seperti itu yang perlu diperdebatkan. Cobalah sesekali ngobrol dengan mahasiswa. Kok pak wahid tertera sebagai dosen satu-satunya di akper. Hanya pak wahid yang dosen, tapi yang lain macam-macam?

Akhirnya ku meratap. Menyesal kuliah strata dua. Toh walaupun gak kuliah lagi gaji saya akan tetap seperti yang saya terima sekarang dan mungkin nambah dengan tambahan dari sebagai Kadiv KDM, hehehe............

ATAS NAMA LOGIKA


DOSEN TELADAN/TERBAIK

Senin, saat apel pagi dimulai di halaman kampus Akademi Keperawatan Pamekasan yang sejuk, pemimpin apel bertutur “kami akan memilih dosen teladan”. Apel pagi dibubarkan. Sontak para karyawan semua bergetar. Semua riuh dan saling memberi komentar. Padahal (mungkin) di hati mereka akan mengatakan “pasti saya yang terpilih”. “pasti kamu mam itu dosen teladannya”, “ah dak mungkin, menilai darimana kalau saya yang terpilih”. Saya terpekur mengukur diri, lalu bermain dalam angan-angan seandainya saya yang terpilih, maka saya akan menolak atau mengembalikan penghargaan itu kepada yang memberikan kepada saya. Bukan apa-apa, mestinya penilaian dosen teladan/terbaik (versi saya) adalah kedisiplinan. 1) Disiplin waktu, 2) Disiplin tempat, 3) Disiplin seragam, dan 4) Disiplin mengajar. Keempat disiplin itu ada pada diri Bpk Latif,SST,MM.Kes dan Bpk Imam,SST,MM.Kes. pernah saya datang sebelum jam 7, eh 2 orang itu dah standby di mejanya masing-masing. Pernah juga datang pukul 06.00, eh pak Latif sudah ngetik di ruang TU. Kalau disiplin seragam, mungkin saya harus belajar pada Pak Edy, S.Kep,Ns.,M.Kep. mungkin ia yang paling suka berseragam. Hampir dipastikan setiap apel pagi saya tidak pernah memakai seragam (sory, kainnya habis disantap tikus). Tapi walau demikian ada sedikit yang bisa saya banggain yaitu dalam hal disiplin mengajar. Saya tidak pernah membuat mahasiswa keleleran. Saya selalu ngajar tepat waktu dan walau yang minta tukeran mendadak selalu saya tidak pernah menolak. Pernah suatu hari koordinator minta untuk ngajar di kelas, padahal waktu itu tidak ada waktu saya, materipun sudah habis, lantas saya marah sama koordinatornya, “kok tiba-tiba gitu, kenapa gak bilang tadi malam? Pas ia bilang “sory bos, soalnya orangnya baru bilang tadi pagi juga pas subuh itu, katanya sekarang ada kuliah di surabaya”. Nah kan? Siapa yang salah? Sekarang pas diramein mahasiswa yang keleleran.

Sampai pada sebuah batas waktu, hal yang diucapkan pemimpin apel tidak pernah terwujud. Dosen teladan menguap begitu saja (mengutip ucapan parebhasan madhure “nga’ caca baceng”).
Tapi, disuatu waktu yang berbeda muncullah pengumuman PEMILIHAN DOSEN TERBAIK DIRAIH OLEH BAPAK EDY SURYADI AMIN, S.Kep,Ns.,M.Kep. pengumuman itu disuarakan oleh Panitia Dies Natalis Akper Pamekasan. Hebohlah seisi kampus. Masih ingat perubahan wajah bu Hilmah yang mengkerut menahan rasa penasaran dan mangkel “apa kriterianya pak? Uh gak tahulah!”. Kriterianya yang tahu adalah panitia diesnatalis Akper Pamekasan. Dan inilah tanggapan dari beberapa mahasiswa yang dianggap terlibat. Seorang mahasiswi berkata “ide awal memang dari saya pak, tapi tidak pernah ada respon dari anggota. Lalu saya anggap tidak usah dan tidak ada. Sampai pada waktu menjelang acara saya ditegor oleh teman dekat saya “Is, pemilihan dosen terbaik, kok ada? Bagaimana penilainnya? Siapa yang milih”. Terus terang saya kaget pak, dan saya tidak tahu tentang itu. pas tiba-tiba muncul”. Usut punya usut, ternyata pemilihan dosen terbaik ditetapkan dan ditunjuk langsung oleh ketua panitia Dies Natalis dan dalam hal ini adalah Indra. dan inilah tanggapan sang pemenang “saya tidak tahu apa-apa tentang itu, gak tahu anak-anak senat itu gimana, yang milih saya adalah mereka”. Tu kan? Semua atas nama logika bukan? Atas nama timbal balik jasa. Bukankah selama ini yang ngemong mahasiswa adalah  pak Edy? Jadi wajarlah kalau mereka mau memberi kejutan buat tuannya.

Tetapi, atas nama logika pulalah hal itu terbantahkan. Semua mahasiswa dari tingkat 1 sampai tingkat 3 mengatakan, tidak pernah ada polling pemilihan dosen terbaik. Atas nama logika saja terbantahkan apalagi atas nama ilmiah? Belum lagi populasinya siapa, sampelnya berapa, instrumennya bagaimana? Dan metode penelitiannya bagaimana?

Kalau panitianya mengatakan pemilihannya atas petunjuk sang ketua acara. Ya, atas nama logika pula mestinya diumumkan PEMILIHAN DOSEN TERBAIK PANITIA DIESNATALIS AKPER PAMEKASAN ADALAH BAPAK EDY SURYADI AMIN, S.Kep,Ns.,M.Kep. (BUKAN DOSEN TERBAIK AKPER PAMEKASAN). Kalau sudah disebut seperti ini yang lain ya legowo dan nrimo. Bukankah panitia diesnatalis yang dari dosen hanya 2 orang? Bapak Moh. Nur, S.Kep,Ns dan BAPAK Edy Suryadi Amin, S.Kep,Ns.,M.Kep.