Senin, 06 Agustus 2012

ATAS NAMA LOGIKA


DOSEN TELADAN/TERBAIK

Senin, saat apel pagi dimulai di halaman kampus Akademi Keperawatan Pamekasan yang sejuk, pemimpin apel bertutur “kami akan memilih dosen teladan”. Apel pagi dibubarkan. Sontak para karyawan semua bergetar. Semua riuh dan saling memberi komentar. Padahal (mungkin) di hati mereka akan mengatakan “pasti saya yang terpilih”. “pasti kamu mam itu dosen teladannya”, “ah dak mungkin, menilai darimana kalau saya yang terpilih”. Saya terpekur mengukur diri, lalu bermain dalam angan-angan seandainya saya yang terpilih, maka saya akan menolak atau mengembalikan penghargaan itu kepada yang memberikan kepada saya. Bukan apa-apa, mestinya penilaian dosen teladan/terbaik (versi saya) adalah kedisiplinan. 1) Disiplin waktu, 2) Disiplin tempat, 3) Disiplin seragam, dan 4) Disiplin mengajar. Keempat disiplin itu ada pada diri Bpk Latif,SST,MM.Kes dan Bpk Imam,SST,MM.Kes. pernah saya datang sebelum jam 7, eh 2 orang itu dah standby di mejanya masing-masing. Pernah juga datang pukul 06.00, eh pak Latif sudah ngetik di ruang TU. Kalau disiplin seragam, mungkin saya harus belajar pada Pak Edy, S.Kep,Ns.,M.Kep. mungkin ia yang paling suka berseragam. Hampir dipastikan setiap apel pagi saya tidak pernah memakai seragam (sory, kainnya habis disantap tikus). Tapi walau demikian ada sedikit yang bisa saya banggain yaitu dalam hal disiplin mengajar. Saya tidak pernah membuat mahasiswa keleleran. Saya selalu ngajar tepat waktu dan walau yang minta tukeran mendadak selalu saya tidak pernah menolak. Pernah suatu hari koordinator minta untuk ngajar di kelas, padahal waktu itu tidak ada waktu saya, materipun sudah habis, lantas saya marah sama koordinatornya, “kok tiba-tiba gitu, kenapa gak bilang tadi malam? Pas ia bilang “sory bos, soalnya orangnya baru bilang tadi pagi juga pas subuh itu, katanya sekarang ada kuliah di surabaya”. Nah kan? Siapa yang salah? Sekarang pas diramein mahasiswa yang keleleran.

Sampai pada sebuah batas waktu, hal yang diucapkan pemimpin apel tidak pernah terwujud. Dosen teladan menguap begitu saja (mengutip ucapan parebhasan madhure “nga’ caca baceng”).
Tapi, disuatu waktu yang berbeda muncullah pengumuman PEMILIHAN DOSEN TERBAIK DIRAIH OLEH BAPAK EDY SURYADI AMIN, S.Kep,Ns.,M.Kep. pengumuman itu disuarakan oleh Panitia Dies Natalis Akper Pamekasan. Hebohlah seisi kampus. Masih ingat perubahan wajah bu Hilmah yang mengkerut menahan rasa penasaran dan mangkel “apa kriterianya pak? Uh gak tahulah!”. Kriterianya yang tahu adalah panitia diesnatalis Akper Pamekasan. Dan inilah tanggapan dari beberapa mahasiswa yang dianggap terlibat. Seorang mahasiswi berkata “ide awal memang dari saya pak, tapi tidak pernah ada respon dari anggota. Lalu saya anggap tidak usah dan tidak ada. Sampai pada waktu menjelang acara saya ditegor oleh teman dekat saya “Is, pemilihan dosen terbaik, kok ada? Bagaimana penilainnya? Siapa yang milih”. Terus terang saya kaget pak, dan saya tidak tahu tentang itu. pas tiba-tiba muncul”. Usut punya usut, ternyata pemilihan dosen terbaik ditetapkan dan ditunjuk langsung oleh ketua panitia Dies Natalis dan dalam hal ini adalah Indra. dan inilah tanggapan sang pemenang “saya tidak tahu apa-apa tentang itu, gak tahu anak-anak senat itu gimana, yang milih saya adalah mereka”. Tu kan? Semua atas nama logika bukan? Atas nama timbal balik jasa. Bukankah selama ini yang ngemong mahasiswa adalah  pak Edy? Jadi wajarlah kalau mereka mau memberi kejutan buat tuannya.

Tetapi, atas nama logika pulalah hal itu terbantahkan. Semua mahasiswa dari tingkat 1 sampai tingkat 3 mengatakan, tidak pernah ada polling pemilihan dosen terbaik. Atas nama logika saja terbantahkan apalagi atas nama ilmiah? Belum lagi populasinya siapa, sampelnya berapa, instrumennya bagaimana? Dan metode penelitiannya bagaimana?

Kalau panitianya mengatakan pemilihannya atas petunjuk sang ketua acara. Ya, atas nama logika pula mestinya diumumkan PEMILIHAN DOSEN TERBAIK PANITIA DIESNATALIS AKPER PAMEKASAN ADALAH BAPAK EDY SURYADI AMIN, S.Kep,Ns.,M.Kep. (BUKAN DOSEN TERBAIK AKPER PAMEKASAN). Kalau sudah disebut seperti ini yang lain ya legowo dan nrimo. Bukankah panitia diesnatalis yang dari dosen hanya 2 orang? Bapak Moh. Nur, S.Kep,Ns dan BAPAK Edy Suryadi Amin, S.Kep,Ns.,M.Kep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar